Blog ini terdapat beberapa cerita keseharian saya dan pemikiran-pemikiran yang saya tuangkan kedalam sebuah tulisan. Saya harapkan pembaca mau menuangkan komentar dan saran serta kritik agar saya sebagai penulis dapat lebih baik lagi.
Terima Kasih atas kunjungannya....



Kamis, 15 Maret 2012

Kemerdekaan II

Berdasarkan Civil Affairs Agreement, pada 23 Agustus 1945 Inggris bersama tentara Belanda mendarat di Sabang, Aceh. 15 September 1945, tentara Inggris selaku wakil Sekutu tiba di Jakarta, dengan didampingi Dr. Charles van der Plas, wakil Belanda pada Sekutu. Kehadiran tentara Sekutu ini, diboncengi NICA (Netherland Indies Civil Administration - pemerintahan sipil Hindia Belanda) yang dipimpin oleh Dr. Hubertus J van Mook. Untuk pada tahun yang sama pula Belanda membuka kembali perundingan atas dasar pidato siaran radio Ratu Wilhelmina tahun 1942 (statkundige concepti atau konsepsi kenegaraan), tetapi ia mengumumkan bahwa ia tidak akan berbicara dengan Soekarno yang dianggapnya telah bekerja sama dengan Jepang. Pidato Ratu Wilhemina itu menegaskan bahwa di kemudian hari akan dibentuk sebuah persemakmuran yang di antara anggotanya ialah Kerajaan Belanda dan Hindia Belanda, di bawah pimpinan Ratu Belanda. Pada saat itu pula Terdapat berbagai pertempuran yang terjadi pada saat masuknya Sekutu dan NICA ke Indonesia, yang saat itu baru menyatakan kemerdekaannya. Apa Indonesia telah benar - benar merdeka setelah proklamasi soekarno? Hah…!?


Beberapa pertempuran itu diantaranya: Peristiwa 10 November di daerah Surabaya dan sekitarnya,Palagan Ambarawa di daerah Ambarawa Semarang dan sekitarnya,Perjuangan Gerilya Jenderal Soedirman meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur, Bandung Lautan Api di daerah Bandung dan sekitarnya. Apa arti dari kemerdekaan yang sebenarnya kalu nyatanya setelah proklamasi kita masi saja harus mempertahankan kemerdekaan? Apa kita benar – benar telah merdeka atau hanya omong kosong belaka?!. Sejak itu pula ibukota dipindah ke daerah Yogyakarta. Satu tahun setelah itu tepatnya 1956 indonesia merubah sistem pemerintahannya dari presidential menjadi parlementer. Terjadinya perubahan besar dalam sistem pemerintahan Republik Indonesia (dari sistem Presidensiil menjadi sistem Parlementer) memungkinkan perundingan antara pihak RI dan Belanda. Namu pada desember 1946 terjadi peristiwa yang di sebut Peristiwa Westerling dimana terjadi pembataian warga sipil di bagian Sulawesi oleh pasukan Belanda Depot Speciale Troepen pimpinan Westerling. Memang nyatanya Indonesia masih saja belum merdeka dari penjajah – penjajahnya… Tragis!
Bulan Agustus pemerintah Belanda melakukan usaha lain untuk memecah halangan dengan menunjuk tiga orang Komisi Jendral datang ke Jawa dan membantu Van Mook dalam perundingan baru dengan wakil-wakil republik itu. Konferensi antara dua belah pihak diadakan di bulan Oktober dan November di bawah pimpinan yang netral seorang komisi khusus Inggris, Lord Killearn. Bertempat di bukit Linggarjati dekat Cirebon. Setelah mengalami tekanan berat -terutama Inggris- dari luar negeri, dicapailah suatu persetujuan tanggal 15 November 1946 yang pokok pokoknya sebagai berikut :
  1. Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatra, Jawa dan Madura. Belanda harus meninggalkan wilayah de facto1 Januari 1949, paling lambat
  2. Republik Indonesia dan Belanda akan bekerja sama dalam membentuk Negara Indonesia Serikat, dengan nama Republik Indonesia Serikat, yang salah satu bagiannya adalah Republik Indonesia
  3. Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia - Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya.
Untuk ini Kalimantan dan Timur Raya akan menjadi komponennya. Sebuah Majelis Konstituante didirikan, yang terdiri dari wakil-wakil yang dipilih secara demokratis dan bagian-bagian komponen lain. Indonesia Serikat pada gilirannya menjadi bagian Uni Indonesia-Belanda bersama dengan Belanda, Suriname dan Curasao. Hal ini akan memajukan kepentingan bersama dalam hubungan luar negeri, pertahanan, keuangan dan masalah ekonomi serta kebudayaan. Indonesia Serikat akan mengajukan diri sebagai anggota PBB. Akhirnya setiap perselisihan yang timbul dari persetujuan ini akan diselesaikan lewat arbitrase.



Kedua delegasi pulang ke Jakarta, dan Soekarno-Hatta kembali ke pedalaman dua hari kemudian, pada tanggal 15 November 1946, di rumah Sjahrir di Jakarta, berlangsung pemarafan secara resmi Perundingan Linggarjati. Sebenarnya Soekarno yang tampil sebagai kekuasaan yang memungkinkan tercapainya persetujuan, namun, Sjahrir yang diidentifikasikan dengan rancangan, dan yang bertanggung jawab bila ada yang tidak beres. Saya rasa memang ada yang sangat tida beres! Coba anda pikirkan?
Setelah perundingan tesebut ada beberapa peristiwa yang terjadi pula, memang perundingan linggarjari ini menimbulkan sedikit banyaknya kontraversi hingga terjadi Proklamasi Negara pasundan yang di provokasi oleh belanda. Memang belanda ini dari awal penjajahan sampai setelah kemerdekaan pun masih saja menginjak – injak Indonesia tidak habis pikir memang… Ada apa dengan Negara Indonesia ini?! Tidak hanya itu belanda pun melakukan agresi yang kita kenal dengan anggresi militer 1 dimana Belanda mengirimkan Nota Ultimatum, yang harus dijawab dalam 14 hari. Perdana Menteri Sjahrir menyatakan kesediaan untuk mengakui kedaulatan Belanda selama masa peralihan, tetapi menolak gendarmerie bersama. Jawaban ini mendapatkan reaksi keras dari kalangan parpol-parpol di Republik. Yah… reaksi keras saja yang dapat di keluarkan! Sudahkan kita merdeka dari belanda?! Tidak hanya itu Agresi Militer II terjadi pada 19 Desember 1948 yang diawali dengan serangan terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya. Jatuhnya ibu kota negara ini menyebabkan dibentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatra yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara. Memang tindakan belanda mendapat tekanan dari beberapa Negara yang mendukungnya untuk menghentikan serangan – serangan itu yang mengakibatkan belanda melakukan perundingan kembali yang kita kenal dengan Perjanjian Roem Royen. Huh..! lagi – lagi perjanjian yang tidak jelas….
Serangan Umum 1 Maret 1949 terhadap kota Yogyakarta dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto dengan tujuan utama untuk mematahkan moral pasukan Belanda serta membuktikan pada dunia internasional bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan. Masa?! Hahahahaha… Lalu Indonesia dan belanda mengadakan pertemuan di den hag Belanda dari 23 Agustus hingga 2 November 1949. Yang menghasilkan kesepakatan:
Belanda
mengakui kedaulatan Republik Indonesia Serikat.
Irian Barat
akan diselesaikan setahun setelah pengakuan kedaulatan.


Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 27 Desember 1949, selang empat tahun setelah proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Pengakuan ini dilakukan ketika soevereiniteitsoverdracht (penyerahan kedaulatan) ditandatangani di Istana Dam, Amsterdam. Di Belanda selama ini juga ada kekhawatiran bahwa mengakui Indonesia merdeka pada tahun 1945 sama saja mengakui tindakan politionele acties (Aksi Polisionil) pada 1945-1949 adalah ilegal. Ini kita kenal dengan Konferensi Meja Bundar. Jadi kapan kita merdeka? 17 agustus atau 27 desember? Atau kita masih dijajah hingga saat ini, walaupun gerakan mereka masih rahasia atau disebut gerakan bawah tanah, bersembunyi dari balik pemimpin kita yang mementingkan keegoisan masing-masing, dengan hanya dibayar seperangkat “MOBIL DAN RUMAH MEWAH”, memberikan kedaulatan, rasa nasionalis, hingga bangsa ini hancur terpecah belah dengan intrik politik yang rumit dan sulit dipahami dengan akal sehat.Hanya anda yang bijak yang dapat menjawabnya hehhehehe…… Apa kita harus percaya dengan sejarah yang di tulis oleh bangsa kita sendiri? Atau hanya mengangukan kepala dan menelan ludah saja? sungguh tragisnya bangsa kita….

0 comments:

Posting Komentar

Followers

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls